Take with D3000
F. 5.6
ISO 200
12 second
Jika mengaca pada sejarah maka palangkaraya belum memiliki umur yg dapat dikatakan kota yang bersejarah bagi negara R.I, akan tetapi bila menilik dari perkembangan serta laju pertumbuhan serta pembangunan juga sektor ekonomi maka layaklah Palangkaraya masuk dalam kategori kota yang berkembang dalam laju yang cukup pesat.
Betang dikawasan Pameran Budaya & Pariwista Kota Palangkaraya
Take with D3000
F.7
ISO 100
1/20
Rumah adalah tempat hunian ideal bagi manusia pada umumnya. Di negara
Indonesia yang multi-etnis ini, rumah juga kerapkali dijadikan sebagai
simbol representatif dari suku-suku tertentu. Dalam tulisan ini, penulis
secara khusus membahas soal rumah betang yang menjadi tempat hunian
khas masyarakat Dayak. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang tidak hanya
sekedar menjadi simbol representatif kebudayaan sukunya. Lebih dari itu,
rumah betang juga merupakan salah satu karakteristik kebudayaan Dayak.
Dengan memasang terminologi “karakteristik” sebenarnya dimaksudkan bahwa
rumah betang tidak hanya sekedar tempat tinggal layaknya tempat
penampungan yang “biasa-biasa” saja. Meskipun bentuk, bahan bangunan dan
isi yang ada di dalamnya tidak semewah yang kita bayangkan, namun bagi
orang Dayak rumah betang itu sarat makna.
Persepsi suku Dayak tentang rumah betang tercakup dalam beberapa
aspek penting dari rumah betang itu sendiri, yaitu aspek penghunian,
aspek hukum dan peradilan, aspek ekonomi dan aspek perlindungan serta
keamanan. Telah sekian lama rumah betang menjadi hunian kebanggaan masyarakat
Dayak. Di tempat inilah segala proses kehidupan masyarakat Dayak mulai
dari awal hingga akhir terjadi. Di sinilah semangat persaudaraan,
kerjasama dan dialog terjalin dengan sangat baik. Namun ironisnya, di
tengah kebanggaan itu terselib kegelisahan dan kepanikan yang luar biasa
mana kala hunian yang menjadi kebanggaan sekaligus cerminan karakter
masyarakat Dayak ini ikut tergerus oleh perkembangan zaman yang dahsyat.
Karena sentuhan modernisasi semakin dominan, banyak rumah bentang yang
hanya “tinggal kenangan”. Sayangnya, banyak masyarakat kita khususnya
orang Dayak belum sungguh-sungguh menyadari “kehilangan” besar yang
sedang dialaminya. Mereka seakan diam seribu bahasa menyaksikan
perubahan yang dahsyat itu. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa
hal itu terjadi? Dan apa dampaknya bagi perkembangan karakteristik
kebudayaan masyarakat Dayak sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini masih
jauh dari benak masyarakat Dayak yang belum menyadari akar serta dampak
dari “kehilangan” besar yang sedang dialaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar